Kamis, 30 Desember 2010

Lalu Kenapa Dengan Mata Kananmu?

Salim datang ke kantor dengan dua mata lebam. Sontak teman-temannya bertanya apa yang terjadi dengan dirinya.
“Ceritanya begini.. Saya kemarin antri di belakang wanita tinggi besar. Saya lihat rok wanita itu terjepit diantara belahan pantatnya.  Lalu saya tarik agar terlihat  rapi. Eh, dia  malah berbalik arah dan meninju mata kiri saya”.
“Lalu kenapa dgn mata kananmu ?” tanya teman-temannya
“Saya pikir dia tidak suka jika rok-nya dikeluarkan, karena itu saya masukkan lagi rok-nya ………”
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Salim dan Ibu Muda

Si Salim naik busway dan duduk disebelah ibu muda cantik dan sexy.
Kebetulan ibu muda itu baru mulai hendak menyusui bayinya.
Tapi ketika si ibu muda hendak menyusui, si bayi menolaknya..
Si ibu muda berkata ” ayo sayang diminum, entar mama kasih sama om yg disebelah loh”…
Sepuluh menit kemudian bayi masih saja tidak mau minum asi.
Si ibu muda membujuk lagi “ayo dong sayang diminum susunya… nanti mama kasih om yg disebelah beneran loh…”
Tiba2 si Salim bicara kepada si ibu muda ” Dengar ya mbak..tolong mbak cepat ambil keputusan.. Saya mestinya sudah turun di 4 halte sebelumnya..”
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Kocak Abis Bos (Nyesel klo ga liat)





Spoiler:



iya, kami tau kalau kalian siap melayani kami…


Spoiler:







Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Semakin Mendesak, Turunkan Nurdin!

Kita semua menyaksikan perjuangan heroik sekumpulan anak bangsa di AFF Suzuki Cup 2010. Tapi kenyataan pahitnya, Indonesia belum mampu juara di ASEAN sejak 19 tahun terakhir. Perjuangan tak boleh berhenti di sini...

Penampilan gemilang skuad timnas Merah Putih di bawah asuhan pelatih Alfred Riedl di ajang AFF Suzuki Cup 2010, membuat publik sepakbola di tanah air kembali bangkit dan memberikan dukungan. Maklum, sejak meraih emas pada SEA Games 1991 di Manila, timnas Indonesia tidak pernah mempersembahkan gelar juara di turnamen internasional.

Sama dengan yang pernah terjadi di ajang Piala Asia 2007 silam, dukungan dari publik sepakbola nasional begitu luar biasa. Bahkan pihak panitia lokal pun kewalahan dalam hal menyediakan tiket tanda masuk.

Kapasitas Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, yang dijadikan venue untuk menggelar laga bagi Firman Utina dkk yang hanya mampu menampung 80 ribu penonton, justru lebih dari tiga kali lipat jumlah penonton yang ingin membeli tiket.

Akibatnya, kericuhan pun sempat mewarnai penjualan tiket tanda masuk yang bahkan berakibat amukan calon penonton. Itu karena mereka kecewa akibat sulitnya mendapatkan tiket tersebut. Padahal mereka sudah melalui prosedur yang ditetapkan, termasuk dengan sabar melakukan antri di loket penjualan tiket.

Bagi PSSI selaku penanggungjawab setiap laga internasional dan nasional, termasuk dengan pertandingan di ajang AFF, keributan penjualan tiket tanda masuk tersebut bukan yang pertama kalinya. Sebab saat rencana ujicoba klub elit asal Inggris, Manchester United, di Jakarta pada Juli 2009 lalu, hal yang sama pun terjadi.

Yang menarik, dalam setiap amukan calon penonton, selalu saja ada teriakan yang bernada meminta agar ketua umum PSSI Nurdin Halid mundur dari jabatannya. Ketidakmampuan PSSI mendistribusikan tiket dengan baik menjadi salah satu pemicu adanya desakan agar dia mundur.

"Nurdin mundur, Nurdin mundur!" begitulah teriakan calon penonton yang kecewa dengan sistem penjualan tiket laga kandang timnas Indonesia yang dilakukan panitia lokal di bawah koordinasi otoritas sepakbola nasional.

Selain itu, ada hal yang menarik dalam setiap laga yang dimainkan timnas. Puluhan spanduk bernada dukungan terhadap Nurdin tampak terpasang. Hal tersebut menjadi indikasi kuat, jika saja orang nomor satu di sepakbola nasional tersebut menjadikan sepakbola sebagai kendaraan politik.

Apalagi, dalam satu kesempatan, ia pun membawa pemain timnas menemui pimpinan salah satu partai politik terbesar di tanah air yang membuat beberapa politikus ikut memanfaatkan momen penampilan menawan timnas, untuk tebar pesona sembari mencari simpatisan.

Padahal Nurdin sendiri selalu berkoar-koar agar sepakbola tidak dipolitisasi, menyusul adanya gerakan yang dilakukan beberapa pihak untuk menggulirkan kompetisi tandingan. Tapi anehnya, justru pengurus PSSI yang terus 'mengencangkan' posisi dengan menebar spanduk bernada dukungan.

Saking seriusnya, spanduk tersebut bahkan sampai ada yang terpasang di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, ketika skuad Merah Putih melakoni laga pertama babak final AFF Suzuki Cup 2010 beberapa hari lalu, meski muncul pula spanduk yang berseberangan karena menghujat kepemimpinan Nurdin.

Sebetulnya, yang patut dicermati adalah bagaimana cara pandang publik sepakbola nasional agar tidak dibawa ke ranah politik praktis. Bagaimanapun, olahraga yang menekankan nilai-nilai sportivitas jauh berbeda dengan politik yang terkadang menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai tujuan.

Akankah kita terjebak dengan permainan politikus di republik ini? Tentu jawabannya tidak, meski pada faktanya, terkadang kita tidak sadar sudah berada dalam koridor ranah politik. Salah satunya dengan kesediaan memasang spanduk bernada dukungan kepada pihak tertentu, atau dengan menggunakan pembagian kaos 'Merah-Putih' yang di dalamnya tertulis nama sang pemberi baju tersebut.

Melirik sepakterjang PSSI di bawah kendali Nurdin selama lebih dari sepuluh tahun, sudah pasti kita akan mengelus dada. Maklum, karena sejauh ini praktis baru gelar Piala Kemerdekaan Indonesia yang direbut di Stadion Utama beberapa tahun lalu. Itupun melalui laga yang mendapat protes dari Libya karena merasa dicurangi di partai final.

Seluruh dunia mengakui, potensi sepakbola yang ada di Indonesia cukup besar dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa. Tapi sejauh ini, prestasi timnas masih tetap saja melempem. Meski secercah harapan sempat diperoleh saat tampil di babak penyisihan AFF tahun ini.

Hanya saja, kekalahan telak 3-0 dari tuan rumah Malaysia pada laga pertama babak final AFF Suzuki Cup 2010, kembali memunculkan perasaan was-was, hingga akhirnya Indonesia gagal mengakhiri pacekik gelar. Untuk keempat kalinya, Indonesia harus menerima predikat sebagai runner-up kejuaraan sepakbola bergengsi di kawasan Asia Tenggara tersebut.

Namun kegagalan menjuarai Piala AFF 2010 tidak membuat Nurdin berniat mundur meski tekanan banyak menerpanya. Tak hanya terkait prestasi, tapi juga sistem penjualan tiket pertandingan di Stadion Gelora Bung Karno yang membuat penonton kesulitan dan dirugikan. Di luar AFF, masih ada setumpuk masalah yang menimpa Superliga Indonesia, hingga Persibo Bojonegoro, Persebaya Surabaya dan Persema Malang rela bergabung ke Liga Primer Indonesia (LPI).

Walaupun LPI masih diperdebatkan terutama dalam aspek legalitas, seharusnya breakaway league ini tidak perlu berdiri sama sekali, seandainya PSSI era Nurdin dapat mengelola liga yang benar-benar super dalam segala hal terkait profesionalisme.

Perjuangan timnas memang tidak akan berhenti di sini. Menatap ke depan, Garuda harus mampu berbicara di Asia hingga ke level dunia. Tanpa didukung federasi yang kuat, profesional, mempunyai visi dan misi jangka panjang, transparan dan bebas korupsi, rasanya timnas masih akan sulit mencapai prestasi.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Nurdin Halid (Kembali) Panen Kecaman

Ulah PSSI yang, bagi sebagian orang, mempolitisasi prestasi Timnas Indonesia, berbuntut panjang. Sejumlah tokoh dan politikus ramai-ramai angkat bicara dan mengecam Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid.

Seperti dilansir Tempo Interaktif, ulah Nurdin yang mengajak Timnas PSSI sowan ke Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, dianggap sejumlah tokoh tersebut sebagai penyebab kekalahan para penggawa Garuda merah Putih di leg pertama partai final Piala AFF, Minggu (26/12) lalu. Karena itulah, mereka mengecam, Nurdin.

"Biarkan tim nasional Indonesia mempersiapkan diri dan bermain sebaik mungkin, tidak perlu dibebani dengan sejumlah agenda, dan tidak perlu diiming-imingi janji-janji," kata Ketua MPR, Taufik Kiemas.

Senada, salah seorang tokoh olahraga nasional, IGK Manila beranggapan bahwa salah satu penyebab kekalahan Indonesia adalah faktor nonteknis. Menurutnya, para pemain dibebani banyak agenda di luar latihan. Tindakan ini, menurut Manila, merusak konsentrasi pemain. Aroma politik pun amat kental dalam dua acara itu. "Jangan ulangi kesalahan, kecuali keledai," ujarnya sembari menambahkan, karier Nurdin di PSSI bergantung pada hasil final kedua Indonesia versus Malaysia, 29 Desember besok.

Kecaman pada Nurdin Halid bukan hanya datang dari kalangan politisi maupun kalangan tokoh olahraga. Masyarakat umum banyak yang sudah muak dengan ulah Nurdin. Bahkan, banyak juga yang mendesak agar pria asal Makassar itu mengundurkan diri. Bahkan, di jejaring sosial Facebook, sudah ada beberapa grup yang mengampanyekan tuntutan agar Nurdin lengser.

Sementara itu, menanggapi tuntutan sebagian orang agar Nurdin Halid lengser dari singgasananya, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng menolak menanggapi. "Saya enggak mau mengomentari," ujarnya setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Indonesia Menang, Malaysia yang Juara

Indonesia berhasil memenangi final Piala AFF leg kedua. Menghadapi Malaysia hari Rabu, 29 Desember 2010, Merah Putih menang 2-1.
 

Sayang kemenangan ini tak cukup untuk membawa tuan rumah merebut trofi AFF untuk pertama kalinya. Skor 2-1 di pertandingan malam ini menjadikan agregat menjadi 2-4. Di leg pertama, pasukan Alfred Riedl kalah 0-3.

Indonesia di leg kedua ini kebobolan lebih dulu. Di menit 56, umpan panjang yang didapatkan oleh Mohd Safee bin Mohd Sali berhasil ia konfersikan menjadi gol dengan menjebol gawang Markus Horison.

Gol yang dinanti lebih dari 200 juta penduduk Indonesia ke gawang Malaysia akhirnya hadir di menit 71. Gol ini mengubah skor menjadi 1-1.

Gol dicetak oleh M Nasuha. Ia menyambar bola muntah tendangan Ahmad Bustomi yang gagal diamankan dengan sempurna oleh kiper Malaysia.

Sayang di sisa pertandingan cuma satu gol tambahan yang bisa dicetak Christian Gonzales dan kawan-kawan. Menit 87, penetrasi M Ridwan di sisi kiri pertahanan lawan ia selesaikan dengan sebuah tendangan keras. Bola membentur kepala seorang pemain bertahan Malaysia dan masuk ke gawangnya sendiri. Skor akhir 2-1.

Ini adalah sukses pertama Malaysia menjadi juara Piala AFF. Sebelumnya Malaysia  sekali masuk final di tahun 1996. Sedangkan Indonesia masuk final empat kali tanpa pernah juara.
Saat kedudukan masih 0-0 di babak pertama, Indonesia sebenarnya punya peluang sangat baik untuk bisa unggul lebih dulu. Di menit 18, Indonesia mendapatkan tendangan penalti setelah  pemain Malaysia Mohd Sabre bin Mat Abu handsball di dalam kotak terlarang.

Firman Utina maju sebagai algojo. Sayang, tendangannya yang tak terlampau keras bisa diantisipasi dengan baik oleh kiper Malaysia Khairul Fahmi Che Mat yang terbang ke sisi kiri. Skor tak berubah.
Susunan pemain:
Indonesia (4-4-2): Markus Haris Maulana; Zulkifli Syukur, Maman Abdurrahman, Hamka Hamzah, M Nasuha; M Ridwan, Firman Utina (Eka Ramdani '57), Ahmad Bustomi, Arif Suyono (Tony Sucipto '70); Cristian Gonzales, Irfan Bachdim (Bambang Pamungkas'57).

Malaysia (4-4-2): Khairul Fahmi Che Mat; Mohd Asrarrudin Putra Omar, Mohd Muslim Ahmad, Mohd Fadhli Mohd Shas, Mohd Sabre bin Mat Abu; Ashari Bin Samsudin (Mohd Amri Yahyah '78), Mohd Safiq Rahim, Amar bin Rohidan (Razman Roslan '61), Kunanlan Subramaniam; Norshahrul Idlan Talaha, Mohd Safee bin Mohd Sali (Izzaq Faris Ramlan '90).
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit

Kapten Malaysia Ingin Rasakan Liga Indonesia

Bertambah satu lagi pemain timnas Malaysia yang ingin tampil di liga Indonesia. Setelah striker Safee Sali, kini giliran kapten Harimau Malaya, Mohammad Safiq Rahim juga memimpikan hal yang sama.

"Kalau ada kesempatan, ya saya ingin bermain di Indonesia," katanya kepada wartawan di mixed zone, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Rabu, 29 Desember 2010.

Mengenai klub yang diinginkannya, Safiq belum punya pilihan.  "Saya belum tahu klub yang mana, tapi saya punya keinginan bisa bermain di Indonesia," kata gelandang yang kini masih bergabung dengan Selangor FC itu.

"Sriwijaya FC. Dia ingin main di klub Sriwijaya FC," kata pelatih Rajagobal menimpali keterangan Safiq.

Saat ditemui wartawan, Safiq masih menggenggam erat trofi Piala AFFF yang baru saja diraih timnya. Trofi bergengsi tersebut diraih Harimau Malaya usai mengalahkan Indonesia di final dengan agregat 4-2.

"Saya senang tim ini bisa meraih gelar juara malam ini. Pertandingan malam ini sangat luar biasa," kata pria berusia 23 tahun tersebut.

Sebelumnya, top scorer Mohd Safee Sali juga mengatakan ingin tampil di liga Indonesia. Striker andalan Harimau Malaya itu mengungkapkan hal ini usai mencetak dua gol ke gawang Indonesia pada leg pertama lalu.

Malaysia memang kalah 1-2 dari tim Garuda pada final kedua yang digelar, kemarin malam. Namun kemenangan 3-0 di leg pertama membuat pasukan Rajagobal sukses menjadi juara baru di pentas dua tahunan ini.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
Reddit